Article Details
- Category
- Accounting
- Published
- 7 September 2026
- Read Time
- 5 min read
- Author
- afrinsinergy
- Afrin Sinergy Consulting
Perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI), mulai mengubah cara kerja di berbagai bidang, termasuk akuntansi. AI memungkinkan sistem membantu pekerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh manusia, seperti menganalisis informasi, mengolah data, dan mendukung pengambilan keputusan. Dalam akuntansi, AI telah dimanfaatkan untuk pencatatan transaksi, penyusunan laporan keuangan, audit digital, hingga mendeteksi kemungkinan kecurangan (fraud detection).
Penggunaan AI di bidang keuangan juga terus meningkat. Gartner (2024) mencatat sekitar 58% fungsi keuangan perusahaan telah menggunakan AI dalam kegiatan operasionalnya. McKinsey Global Institute (2020) memperkirakan sekitar 42% aktivitas akuntansi dapat diotomatisasi dengan teknologi yang tersedia. Di Indonesia, survei IAI (2024) menunjukkan sekitar 58% profesional akuntansi telah menggunakan perangkat digital berbasis AI dalam pelaporan dan audit keuangan.
Perkembangan tersebut membuat pekerjaan akuntan mulai mengalami perubahan. Akuntan tidak lagi hanya berfokus pada pencatatan transaksi dan penyusunan laporan, tetapi juga perlu mampu menganalisis data dan memberikan masukan bagi pengambilan keputusan. Di sisi lain, muncul tantangan seperti kesenjangan kemampuan digital, etika penggunaan data, dan kekhawatiran terhadap otomatisasi pekerjaan. Karena itu, akuntan perlu terus mengembangkan kemampuan digital, analisis data, dan etika profesional agar dapat beradaptasi dan tetap memberikan nilai tambah di tengah perkembangan AI.
Artificial Intelligence dalam Akuntansi
Artificial Intelligence (AI) adalah teknologi yang memungkinkan komputer melakukan beberapa pekerjaan yang biasanya membutuhkan kemampuan manusia, seperti mempelajari data, menemukan kesalahan, dan membuat perkiraan. Dalam bidang akuntansi, AI mulai banyak digunakan untuk membantu berbagai pekerjaan, seperti mencatat transaksi, menganalisis laporan keuangan, melakukan audit secara digital, dan mendeteksi kemungkinan kecurangan (fraud detection) (Ilham et al., 2024; Edisah, 2024).
Selain membantu mempercepat pekerjaan, AI juga dapat mendukung ketepatan dalam penyusunan laporan dan membuat proses audit menjadi lebih efisien. Menurut Yusril (2025), penggunaan AI dapat membantu meningkatkan akurasi pelaporan sekaligus mengurangi waktu yang dibutuhkan dalam proses audit. Dengan adanya teknologi ini, pekerjaan akuntan tidak hanya menjadi lebih cepat, tetapi juga membuka peluang bagi akuntan untuk lebih fokus pada analisis dan peran yang lebih strategis dalam organisasi.
Peran Akuntan Sebelum AI
Sebelum AI berkembang, pekerjaan akuntan lebih banyak berfokus pada pencatatan transaksi, penyusunan laporan keuangan, dan pemeriksaan dokumen secara manual. Proses tersebut membutuhkan ketelitian dan waktu yang cukup lama (Saddan et al., 2024). Pada saat itu, peran akuntan lebih menekankan pada ketepatan pencatatan dan kepatuhan terhadap standar akuntansi (Leonardus et al., 2024). Namun, semakin banyaknya data dan meningkatnya kebutuhan bisnis akan informasi yang cepat membuat cara kerja tersebut mulai kurang efisien.
Peran AI dalam Pekerjaan Akuntansi
- Pencatatan transaksi, dengan membantu memasukkan dan mengelompokkan data secara otomatis.
- Rekonsiliasi, dengan mencocokkan data dari beberapa sumber dan menemukan perbedaan.
- Penyusunan laporan, dengan membantu mengolah data menjadi informasi keuangan.
- Analisis data, dengan mencari pola atau informasi tertentu dari data dalam jumlah besar.
- Audit, dengan membantu memeriksa data dan menemukan transaksi yang perlu diperhatikan.
- Deteksi kecurangan, dengan mengenali transaksi yang terlihat berbeda dari pola biasanya.
Tantangan Profesi Akuntan di Era AI
Walaupun memberikan banyak manfaat, penggunaan AI juga membawa beberapa tantangan. Salah satunya adalah kemampuan menggunakan teknologi. Tidak semua akuntan sudah terbiasa dengan AI, analisis data, atau sistem digital.
Selain itu, ada juga masalah mengenai keamanan data, privasi, etika, dan tanggung jawab. Akuntan tetap harus memastikan bahwa data digunakan dengan benar dan hasil yang diberikan AI tidak langsung diterima tanpa pemeriksaan. Akuntan juga perlu berhati-hati karena AI dapat memberikan hasil yang kurang tepat. Karena itu, hasil dari AI tetap perlu diperiksa dan dibandingkan dengan kondisi yang sebenarnya.
Peluang Profesi Akuntan di Era AI
Akuntan dapat lebih fokus pada:
- Menganalisis kondisi keuangan
- Menyusun strategi keuangan
- Menilai risiko bisnis
- Memberikan konsultasi keuangan
- Membantu manajemen dalam mengambil keputusan
Perubahan Peran Akuntan
Perkembangan AI membuat peran akuntan perlahan berubah. Akuntan tidak lagi hanya berperan sebagai orang yang mencatat dan menyusun laporan keuangan, tetapi juga dapat menjadi analis data dan penasihat bisnis.
Akuntan perlu mampu memahami hasil yang diberikan AI dan menghubungkannya dengan kondisi perusahaan. Jadi, kemampuan membaca angka saja tidak cukup. Akuntan juga perlu memahami apa arti angka tersebut dan bagaimana informasi tersebut dapat digunakan dalam pengambilan keputusan.
Kemampuan yang Dibutuhkan Akuntan di Masa Depan
- Kemampuan digital, agar dapat menggunakan teknologi dengan baik.
- Analisis data, untuk memahami informasi dalam jumlah besar.
- Pemahaman AI, agar mengetahui cara memanfaatkan teknologi dalam pekerjaan.
- Critical thinking, untuk menilai apakah hasil AI sudah sesuai.
- Professional judgment, untuk menentukan keputusan berdasarkan kondisi yang ada.
- Komunikasi, untuk menjelaskan hasil analisis kepada klien atau manajemen.
- Etika profesi, agar penggunaan teknologi tetap dilakukan secara bertanggung jawab.
Apa yang Perlu Dipersiapkan Mahasiswa Akuntansi?
Perubahan ini juga menjadi perhatian bagi mahasiswa akuntansi. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami pencatatan transaksi dan penyusunan laporan keuangan. Mereka juga perlu mulai mengenal teknologi, data, dan penggunaan AI.
Namun, bukan berarti mahasiswa akuntansi harus menjadi ahli teknologi. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana teknologi digunakan dalam pekerjaan akuntansi dan mampu memeriksa hasil yang diberikan AI.
Dengan menggabungkan kemampuan akuntansi, teknologi, analisis data, critical thinking, dan komunikasi, mahasiswa akan lebih siap menghadapi dunia kerja yang semakin banyak menggunakan teknologi.
Kesimpulan
AI membawa perubahan yang cukup besar dalam dunia akuntansi. Pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang semakin mudah dilakukan dengan bantuan teknologi, sehingga akuntan dapat mengurangi waktu yang digunakan untuk pekerjaan administratif.
Namun, AI tidak serta-merta menggantikan profesi akuntan. Justru, peran akuntan dapat berkembang menjadi lebih banyak melakukan analisis, memberikan saran, membantu pengambilan keputusan, dan mengawasi hasil yang diberikan teknologi.
Karena itu, tantangan utama bagi akuntan bukan hanya bagaimana mempertahankan pekerjaannya, tetapi bagaimana beradaptasi dengan teknologi dan memanfaatkannya dengan baik. Akuntan yang mampu menggabungkan pengetahuan akuntansi dengan kemampuan teknologi dan analisis akan memiliki peluang lebih besar untuk tetap memberikan nilai bagi perusahaan di era AI.



